Minggu, 22 Januari 2012

Urgensi Mata Kuliah ISBD (ilmu Sosial Budaya Dasar)


"Dia anak kuliahan yaa,, tapi kok kelakuannya gak mencerminkan anak kuliahan !". "Katanya mereka yang mencabuli anak perempuan itu adalah mahasiswa di universitas **##*?&#." 
Segelintiran kata-kata seperti itu mungkin pernah anda dengar dari masyarakat. Terasa panas memang kata-kata seperti itu ditelinga kita, apalagi bagi saya.

Maka dari itu pentingnya mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar menjadi tuntutan di zaman sekarang. Seorang mahasiswa tidak hanya diwajibkan untuk memiliki potensi dibidang akademik saja, akan tetapi moral menjadi sangat penting dalam hal ini.
Ilmu Sosial adalah fusi dari sejumlah mata pelajaran sosial. Ilmu Sosial, dinamakan demikian karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajari nya. Sedangkan Ilmu Budaya adalah ilmu pengetahuan mengenai aspek-aspek yang paling mendasar dalam kehidupan manusia sebagai makhluk berbudaya (homohumanus) dan masalah-masalah yang menyertainya, sering disebut sebagai humanities yang merupakan pengetahuan yang diharapkan memberikan pengetahuan tentang konsep-konsep yang dapat digunakan untuk masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Dari pengertian Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya diatas, maka jelaslah bahwa mahasiswa dituntut agar menjunjung sebuah nilai moral sehingga diharapkan dapat menjadi figur di lingkungan masyarakat dan menjadi harapan bangsa Indonesia di masa mendatang.

Dan sangatlah tepat apabila Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) dipelajari oleh mahasiswa dan menjadi mata kuliah umum.Mari kita tengok apa yang dituliskan Ki Hajar Dewantara ‘’Pendidikan menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme guna memperjuangkan kepentingan- kepentingan bangsa diatas kepentingan- kepentingan politik yang kerdil dan sempit, yang kemudian hanya mengorbankan kepentingan bangsanya. Pendidikan itu berupaya sekuat tenaga menanamkan rasa persaudaraan, persamaan, kesetiakawanan, dan kebersamaan hidup senasib sepenanggungan, membela bangsa dalam segala bentuk penindasan, baik seacra fisik maupun psikis, tidak peduli apakah penindasan tersebut berasal dari luar negeri maupun dalam negeri sendiri. Pendidikan pun bermuara guna melahirkan rasa mencintai segala aset bangsa dan dijaga dengan segala cara, agar dapat dimanfaatkan bagi kebesaran dan kemakmuran bangsa’’. (Baca, Menggugat Pendidikan Indonesia). Apa yang disampaikan tokoh pendidikan nasional diatas sangatlah urgen dalam memberikan stimulasi, spirit, dan kekuatan optimisme pada pelaku pendidikan hari ini, bahwa begitu berperannya pendidikan dalam mendorong serta memproteksi kemajuan negara.

Hanya mahasiswa yang konsisten, berani, dan memiliki visi kedepan yang mampu survive dalam dunia pendidikan yang tidak humanis seperti ini. Kenapa para pelaku pendidikan belum juga sadar bahwa negara indonesia telah merdeka, dan telah lepas dari kaum kolonial. Padahal benar ungkapan Murtadha Muthahhari, ‘’Perubahan apa pun bentuknya, selalu hadir melalui kesadaran’’. Itu artinya bahwa kemerdekaan tiap-tiap warga negara mesti dijunjung tinggi, dan dihargai, kenapa para pendidik masih senang mempertahankan kebiasaan buruk yang pernah dibawah oleh kaum penjajah? Masih terlihat nyata di lingkungan pendidikan kita, begitu banyak guru yang masih menggunakan pola-pola lama yang tidak lagi sesuai. Misalnya dengan alasan kedisiplinan langkah kekerasan (premanisme) , harus diterapkan, sangatlah lucu, menyedihkan, dan tragis kalau metode demikian masih tetap dipertahankan. Sistem penjajahan (imperialisme) , sudah saatnya kita buang jauh, maukah kita terus ketinggalan dalam dunia pendidikan jika berkompetisi dengan negara lain?

0 komentar:

Poskan Komentar